Wanita Tangguh Pejuang di Dunia Kurir

29 April 2019

April, 2019 - Natalia Gurning, seorang perempuan yang bertugas sebagai kurir pengantar paket kiriman ke pelanggan. Ia yang akrab disapa Lia dan sehari – hari bertugas di kantor operasional Hub JNE Voglar, Jakarta Barat, merupakan potret nyata emansipasi yang diperjuangkan R.A. Kartini tentang kesetaraan gender laki-laki dan perempuan.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Lia sudah terbiasa bekerja keras agar dapat membantu orang tuanya yang berdagang makanan di daerah Jakarta Pusat. Bagi perempuan lulusan SMA kelahiran tahun 1982 yang akrab disapa Lia ini, bekerja di lapangan seolah sudah mendarah daging, karena sebelum bergabung di JNE juga pernah bekerja di lapangan sebagai surveyor di Badan Pusat Statistik (BPS).

Lia pun menceritakan pengalamannya dulu, “Di bidang survey, selain perlu tenaga dan waktu yang ngga sedikit, juga harus teliti banget, karena harus memproses data – data yang jumlahnya banyak”. Oleh karena itu Lia pun tertarik ketika menerima informasi dari seorang teman dan mendapat tawaran untuk menjadi kurir, sehingga Ia pun bergabung di JNE setaun lalu tepatnya pada Februari 2018 silam.

“Saya senang jadi kurir karena bisa ketemu banyak pelanggan. Ada kepuasan tersendiri kalau pelanggan tersenyum bahagia menerima paket yang udah mereka tunggu. Sering juga waktu saya datang ke suatu daerah, anak – anak kecil ngejar terus ngerumunin saya karena senang paket - paket mereka datang,” ungkap Lia sambil tertawa saat dihubungi pada Selasa (23/4).

Menjadi satu-satunya kurir perempuan di tengah ratusan kurir laki-laki di Hub JNE Voglar, tidak membuat Lia merasa canggung atau risih. Tugas yang diemban pun tidak berbeda dengan kurir laki-laki dimana dalam sehari Lia bisa mengirim paket ke lebih dari 100 alamat. Bahkan pada peak season, seperti Ramadhan, Harbolnas, Mobile Shopping Day, Natal dan Tahun Baru, mau pun yang lainnnya, jumlahnya bisa naik hampir dua kali lipat.

“Begitu juga kalau dapat amanah kirim paket yang ukurannya besar, karena ngga mungkin bawa semuanya di motor, jadi saya bawa dulu paket yang besar itu ke drop station yang letaknya searah sama jalur pengantaran. Terus saya balik ke kantor lagi buat ngambil paket - paket lainnya buat diantar duluan. Abis semua paket ter-delivery, baru saya ke drop station lagi untuk ngambil paket besar itu buat diantar ke penerimanya”, imbuh Lia.

Penerima paket tidak di rumah sekaligus tidak bisa dihubungi, atau alamat tidak lengkap adalah sebuah tantangan. “Kadang perlu cari solusi khusus buat satu paket supaya aman sampai ke penerimanya, apakah dititipin ke tetangganya atau pos satpam, bahkan kadang rumah ketua RT-nya saya datangin. Jadi perlu waktu lebih dari 15 menit cuma untuk satu paket itu”, tuturnya.

Tantangan lainnya yang Ia ungkapkan adalah kondisi jalan di area kerjanya yang tidak semua bisa dilalui motor, sehingga Ia harus berjalan kaki cukup jauh memasuki gang-gang sempit untuk sampai ke alamat tujuan paket. Namun Lia mengatakan, “Kalau kerja dibarengi ikhlas bawaannya senang aja, apakah itu saat hujan atau panas terik, dan harus jalan kaki jauh nyusurin gang sempit untuk sampai ke alamat penerima paket”.

Yang tak kalah penting karena membawa image dan nama baik JNE, Lia selalu menjaga kerapian penampilan dan melempar senyum ramah setiap kali bertemu seluruh penerima paket yang berada di area kerjanya, meliputi kawasan Palmerah, Jakarta Barat. “Saking lengkapnya mulai atribut seragam, jaket, sampai helm, sampai sering dipanggil “abang” oleh penerima paket. Setelah buka kaca helm, baru mereka tahu saya perempuan”, ujarnya.

Mengingat kurir perempuan masih jarang, maka Lia kerap mendapat support dari para pelanggan setia JNE sesama kaum hawa, bahkan diberi julukan khusus oleh seorang ibu – ibu pelanggan setia JNE yang paketnya sering diantarkan oleh Lia, yaitu ‘Kartini Tangguh Pejuang Emansipasi di Dunia Kurir’. “Saat pelanggan mengetahui kalau kurirnya perempuan, mereka banyak yang menyemangati,” kata Ibu dua anak ini.

Lia menyampaikan, “Untuk perempuan lainnya yang seprofesi atau bekerja di bidang lainnya dengan area tugas di lapangan, tetap semangat dan jangan khawatir, karena justru banyak orang yang ramah dan mau memberikan bantuan jika kita sedang kesulitan saat bertugas karena tahu kita perempuan. Tapi tentunya harus tetap berhati – hati di jalan”.

Selain senang karena mendapat sambutan baik dari para pelanggan, Ia juga mengaku enjoy karena masih banyak waktu untuk keluarga setiap harinya. “Sebelum berangkat kerja, saya bisa buat sarapan dulu untuk keluarga dan nganter anak – anak sekolah. Abis itu ke kantor untuk sorting paket, baru saya mulai delivery dari jam 11 sampai sore”, cerita Lia yang suaminya berdagang makanan dan juga berprofesi sebagai ojek online ini.

Lia berharap JNE dapat semakin maju dan berkembang, sehingga mempekerjakan banyak kurir perempuan. “Bangga sama JNE karena perempuan pun kalau merasa mampu bisa kerja di tim operasional, termasuk kurir. Saya berharap makin banyak kurir perempuan, terutama di kantor saya, karena kebetulan disana kurir perempuan cuma saya sendiri, supaya saya ada teman,” pungkas Lia.

Customer Care (021) 2927 8888